Iklanheader(ada)

Perginya Seseorang Yang Mengasuhku Di Masa Kecil

“tuhan,,terlalu cepat semua, kau panggil satu-satunya yang tersisa, simbahku tercinta”
Mungkin potongan lirik lagu dari iwan fals yang sedikit saya ubah bagian akhirannya itu cocok untuk menggambarkan suasana duka di keluarga besar kami.


Hari ini adalah hari dimana tepat hari ke tujuh kepergian nenek/simbah kami. Kami sebagai cucu biasanya memanggilnya simbah karena memang sesuai adat jawa kami.

Simbah adalah salah satu orang yang berjasa di kehidupan kami sebagai anak dan cucunya. Terutama saya yang dimana sejak umur dua tahun beliaulah yang mengasuh saya sampai berumur kira-kira tujuh belas tahun.
Proses pemakaman
Proses pemakaman simbah putri
Kisah masa kecilku diasuh oleh kedua simbahku
Sedikit cerita tentang masa kecil saya yang dihabiskan bersama simbah lanang dan simbah wedhok (mbah laki laki dan mbah perempuan). Setelah umur saya genap dua tahun atau tepatnya saat saya sudah disapih atau sudah tidak menyusui lagi orang tua kandung saya menitipkan saya kepada simbah di kota wonogiri karena orang tua saya pergi merantau ke kota bandung.

Selama kurang lebih 15 tahun kedua simbah saya merawat dan mengasuhku. Kira kira dari umur dua tahun sampai umur 17 tahun. Orang tuaku pulang menemui kami selama setahun paling dua kali itu juga paling lama satu minggu karena memang kesibukkan di perantauan.

Bersama kedua simbah saya ini saya jadi punya banyak pengalaman. Mulai dari hidup sederhana,pertanian dan prinsip hidup yang nerimo.

Pada waktu sekolah dasar saya selalu teringat moment moment bersama kedua simbah saya ini. Setiap habis makan malam atau sehabis maghrib kita selalu berkumpul di depan tungku pembakaran yang juga digunakan untuk memasak kami biasa menyebut ini api-api untuk menghangatkan badan. Dengan ditemani teh hangat manis buatan kakek saya selalu mendengar mereka berbincang-bincang tidak jarang mereka berdebat,menceritakan masa lalu,menceritakan kisah mereka atau orang lain di masa mudanya.

Saya sendiri paling suka kalau simbah lanang atau kakek saya bercerita soal pewayangan,kisah para wali,kisah legenda suatu tempat di wonogiri,kisah beliau saat masih muda di jaman jepang dan banyak lagi. Kini aku tidak akan pernah lagi mendengar cerita itu.

Simbah lanang yang pergi lebih dulu

Owh iya untuk yang kemarin pergi baru ke tujuh harinya itu adalah simbah wedhok/nenek/mbok tuek kami. Sedang simbah lanang/kakek/pak tuek kami sudah lebih dulu pergi lebih dulu kira-kira tahun 2007 saat saya duduk dibangku SMP kelas dua.

Kakek saya dulu adalah seorang tetua atau sesepuh didesa kami. Beliau sering dimintai warga sekitar air doa untuk menyembuhkan penyakit. Beliau juga sering menyuwuk atau mendoakan orang yang sakit atau orang yang hendak pergi merantau. Karena hal inilah kakek saya dulu adalah orang yang diajeni atau dihormati di desa kami.

Kakek saya sendiri tidak tahu beliau lahir di tahun berapa. Sehingga beliau sendiri tidak tau umurnya berapa. Bahkan KTP juga tidak punya. Pada saat akhir hayatnya kakek saya tidak menderita penyakit yang serius mungkin karena di usianya sangat tua beliau tidak sanggup lagi untuk melakukan hal-hal lain layaknya manusia yang masih kuat melakukan banyak hal. Hingga akhir hayatnya.

Banyak orang yang beranggapan kalau umur kakek saya itu sekitar delapan puluh tahun. Menurut saya hal ini bisa benar. Karena saya pernah mendengar cerita beliau kalau dulu sebelum penjajahan jepang beliau juga sempat mengalami penjajahan belanda.

Menyusul orang tua di perantauan dan membiarkan nenek sendiri

Selepas simbah lanang pergi saya tinggal berdua bersama nenek yang juga sudah berusia senja. Setelah saya menyelesaikan sekolahku saya berniat untuk menyusul orang tua saya ke bandung sekaligus mencari kerja. Tentu saja hal ini sangat berat saya lakukan karena saya harus meninggalkan nenek saya sendiri dirumah wonogiri. Tapi nenek saya mengijinkan dan akhirnya saya pergi ke bandung menyusul orang tua saya.

Setelah beberapa lama di bandung kami mendengar kabar nenek yang mulai sakit-sakitan. Pakdhe,mbokdhe dan ibu saya selaku anak kandung nenek saya sepakat untuk memboyong nenek ke bandung agar mudah dalam merawatnya.

Ajal memang tidak melihat waktu dan tidak melihat tempat

Setelah nenek diboyong ke bandung beliau tinggal di rumah pakdhe di daerah banjaran kabupaten bandung. Beliau sempat tinggal.bersama kami di bandung selama beberapa tahun. Hingga akhirnya pergi untuk selamanya setelah sakit-sakitan. Dan hari ini pada tanggal 12 september 2018 adalah tepat ke tujuh harinya nenek.

Berbeda dengan kakek yang lahir di wonogiri dan dimakamkan juga di wonogiri tapi tidak untuk nenek. Beliau lahir di wonogiri dan dimakamkan di banjaran kabupaten bandung. Tapi itu lah maut. Rahasia tuhan yang tidak ada siapapun yang mengetahuinya.

Penutup

Selamat jalan kedua simbah kami. Kakek dan nenek kami. Kami akan selalu merindukan moment-moment indah bersama kalian. Jasa-jasamu akan selalu terkenang di hati kami. Pembelajaran yang kalian berikan akan selalu teramalkan di setiap perilaku kami. Al fatehah. Wasalam🙏

4 Responses to "Perginya Seseorang Yang Mengasuhku Di Masa Kecil"

  1. Turut berduka cita ya bang atas kepergian simbah, semoga amal ibadah selama hidupnya diterima Allah SWT, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. Untuk keluarga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan dan keikhlasan. Memang kake nenek atau mbah itu mengajarkan banyak hal banget buat kita, mungkin karena rentang usia sama kita yang terpaut jauh otomatis beliau memiliki pengalaman yang sangat banyak yang bisa dibagikan kepada kita selaku cucunya. Sebagai balas budi, hendaknya kita selalu mendoakan mbah kita dan semua orang tua kita yang masih hidup ataupun yang sudah mendahului kita :).

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 ada

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel ada